Selasa, 23 Maret 2010

Pemicu Mimpi Buruk yang Bikin Stres

Setiap orang pasti pernah mengalami mimpi buruk. Mimpi itu kadang membuatnya terbangun dalam keadaan panik atau takut seperti dikejar-kejar monster atau terlambat datang dalam rapat penting. Mengapa seseorang bisa bermimpi buruk?

Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan atau indra lainnya pada saat tidur. Mimpi lebih sering terjadi jika seseorang tidur yang disertai dengan gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM).

Ilmuwan mencoba untuk mengungkapkan makna di balik mimpi-mimpi buruk yang bisa mengganggu tidur dan membuat orang menjadi panik.

Ilmuwan percaya mimpi buruk tidak secara langsung berhubungan dengan kehidupannya saat terjaga, tapi lebih kepada pencerminan emosi atau masalah yang tengah dihadapinya.

Terdapat lima tema mimpi buruk yang paling umum yaitu terjatuh, dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan, merasa lumpuh, terlambat menghadiri sesuatu dan kematian orang yang dicintai.

Selain itu kehilangan gigi atau rambut juga bisa menjadi mimpi yang tidak menyenangkan terutama untuk anak-anak muda.

Sebuah laporan dalam jurnal European Archives of Psychiatry and Clinical Neuroscience menunjukkan bahwa laki-laki lebih cenderung mengalami mimpi buruk tentang kekerasan atau dipecat, sedangkan perempuan cenderung kepada kematian dan pelecehan seksual.

"Mimpi buruk dikejar-kejar monster kemungkinan mencerminkan ketakutan akan tugas tertentu yang harus dihadapi namun berusaha untuk dihindari," ujar peneliti Dr Michael Schredl dari International Association for the Study of Dreams, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (23/3/2010).

Sedangkan mimpi mengenai kehilangan gigi atau rambut yang lebih sering terjadi pada perempuan kemungkinan menandakan kegelisahan tentang penampilan serta adanya kecemasan mengenai sesuatu yang buruk.

Berdasarkan United States National Library of Medicine, ada beberapa faktor yang bisa memicu timbulnya mimpi buruk yaitu:

  1. Kecemasan dan stress
  2. Alkohol
  3. Obat-obatan
  4. Kandungan lemak pada makanan
  5. Kondisi fisik yang sedang sakit
  6. Perubahan gaya hidup yang terlalu drastis.

Untuk bisa mengalami sebuah mimpi, seseorang harus melewati beberapa tahapan terlebih dahulu, yaitu:
Tahap 1: 4-5 persen, kondisi orang mulai tertidur ringan dan aktivitas otot sedikit menurun.
Tahap 2: 45-55 persen, pola irama jantung dan nafas mulai teratur serta menurunnya temperatur tubuh.
Tahap 3: 4-6 persen, mulai tidur lebih dalam dan otak mulai mempersiapkan untuk menghasilkan gelombang delta.
Tahap 4: 12-15 persen, tidurnya semakin dalam, nafas mulai teratur, aktivitas otot semakin terbatas dan otak sudah menghasilkan gelombang delta.
Tahap 5: 20-25 persen, gerakan mata serta gelombang otak semakin cepat, otot mulai rileks, irama jantung meningkat, napas menjadi cepat dan pendek, maka mimpi pun terjadi.

Karena itu jika ingin menghindari terjadinya mimpi buruk usahakan untuk menghilangkan rasa ketakutan, bersalah, emosi, frustasi atau masa lalu yang tidak menyenangkan. Perasaan ini akan membebani seseorang sehingga terbawa ke dalam mimpi.

(ver/ir)/ ( detik.com)

Boston Selalu Mencengangkan





ABUN SANDA

Tak perlu ke Amerika Serikat kalau tidak ke Boston. Kalimat ini memang cuma seloroh anak-anak muda yang mengenal Amerika Serikat dari dekat. Akan tetapi, selorohan itu sesungguhnya banyak juga benarnya karena Boston menjadi salah satu pilar penting pendidikan di Amerika Serikat. Kota amat elok di tepi Massachusetts Bay ini setiap tahun dikunjungi setidaknya 20 juta wisatawan.

Berbicara tentang Boston selalu menyentuh sejumlah perguruan elite dunia yang sangat terpandang, di antaranya Harvard Unversity dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di dua perguruan tinggi inilah lahir banyak pemikir besar dunia, termasuk yang kini berkarya di Indonesia. Dari sana pula lahir sejumlah presiden serta para pemenang hadiah Nobel, Pulitzer, Oscar, dan sebagainya. Di bidang olahraga, Boston juga terpandang. Klub basket Boston Celtics, sekadar menyebut satu contoh, serta surat kabar berwibawa, Christian Science Monitor, juga berasal dari kota ini.

Tentu bukan hanya beberapa aspek itu yang membuat kota seluas 232,14 km persegi ini selalu berada di panggung dunia. Boston nyaman dihuni karena menjadi salah satu kota besar dengan tingkat polusi amat rendah di Amerika Serikat. Di Boston ini jua, sejumlah ruas vital jalan tol dijadikan taman berpohon lebat. Jalan tolnya sendiri “dipindahkan” ke bawah permukaan tanah. Para pengusaha dan warga Boston juga amat ramah pada alam. Mereka membangun taman di atap rumah atau atap gedung pencakar langit sehingga dari udara, Boston tampak mencengangkan. Taman-tamannya tidak hanya berada di permukaan tanah, tetapi ada juga yang merengkuh langit.

Hal yang tidak kalah memukau, gedung-gedung tinggi yang beratap taman itu dikerjakan dengan selera arsitektur kelas wahid. Seorang pengembang besar Indonesia berujar, kalau sedang “buntu”, ia memilih datang ke Boston dan Chicago untuk mengail inspirasi. Tidak heran kalau produk pengembang ini bermutu amat tinggi.

Warga Boston hidup penuh damai. Para pejalan kaki, penyuka joging, pengguna sepeda, dan kendaraan bermotor hidup berdampingan secara damai. Nyaris tak terdengar jerit klakson di kota berpenduduk empat juta lebih ini.

Irwan Julianto, rekan yang meraih gelar master di Harvard University, menitipkan pesan. Kalau ke kota rupawan ini, jangan lupa meluangkan waktu untuk mendengarkan orang-orang Indian Andes meniup peluit. Jangan pula lewatkan kesempatan melihat orang bermain catur di pelataran Au Bon Pain, atau menghirup wanginya asap kayu pembakar pizza di Pizzeria Uno. (Edi Taslim/Fitricia Juanita)/ ( Kompas.com)

Sabtu, 27 Februari 2010

Hati

Yang namanya hati memang sulit diprediksi.

Kadang, hati itu bisa senang, marah, kecewa, sedih, dan
tersinggung.

Namun, hati itu harus bisa dikontrol. Tanpa dikendalikan ,sebuah hati akan berantakan bergerak tak beraturan layaknya atom-atom. Bisa ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, horizontal, atau vertikal.

Hati itu harus diatur, agar tetap rendah, jangan sampai hati yg baik jadi ternodai, atau terdoktrin untuk berfikir negatif.

Aku punya hati, kamu punya hati, kalian pun punya. Dengan porsi berbeda-beda.Namun, dengan fitrah yg sama, ingin baik, ingin disayang, diperhatikan dan dihargai.

Ingat, manusia diciptakan berbeda, tidak identik, yang terpenting adalah bagaimana usaha kita menempatkan hati dalam posisi netral, karena tidak ada manusia baik yg ingin menyakiti manusia baik lainnya. Tidaklah mungkin kalau sayang lantas menyakiti.

Bahkan mata kanan dan mata kiri kita memiliki ukuran yg berbeda,walau hanya beberapa milimikron. Apalagi hati yang tidak tampak dari luar?. Tentu sulit diprediksi.

Dalam posisi ini, seharusnya mata hati yg harus melihat. Janganlah karena hati kita sedang tidak baik, lantas melihat hati orang lain itu juga tidak baik.

Tidak ada salahnya bercermin, itu untuk kemajuan kita juga. Bukan untuk menceramahi, atau menggurui.


Maka jagalah hati kita dan sayangi.

Inilah kenyataan,

Bahwa hati manusia itu dinamis. Bukan statis.


Seni Rupa di Jerman

Sejak tahun 90-an, seni lukis dan fotografi dari Jerman meraih sukses besar di dunia internasional. Apa yang disebut “keajaiban lukisan baru Jerman” dikenal di luar negeri sebagai “Young German Artists”. Para seniman berasal dari Leipzig, Berlin atau Dresden. Neo Rauch adalah wakil paling tenar dari “Mazhab Leipzig Baru”. Gaya mazhab tersebut ditandai oleh realisme baru yang berkembang – bebas ideologi – dari “Mazhab Leipzig” lama, yang termasuk lingkup seni rupa bekas RDJ. Lukisannya sering memperlihatkan orang-orang pucat yang seolah-olah menunggu sesuatu yang tak tentu. Motif itu dapat ditafsirkan sebagai pantulan keadaan di Jerman pada awal milenium baru. Apa yang disebut “Dresden Pop”, di antaranya Thomas Scheibitz, memetik unsur dari iklan dan dari estetika video dan televisi sambil bermain dengan estetika swakaji mengenai sini dan kini.


ebanyakan seniman muda menganggap pembahasan kritis mengenai nasionalsosialisme, seperti yang ditemukan dalam karya Hans Haacke, Anselm Kiefer dan Joseph Beuys, sebagai urusan masa lampau. Sebaliknya yang tampak di kalangan perupa ialah “kebatinan baru” serta penggarapan bidang-bidang pengalaman yang saling berbenturan: Karya-karya Jonathan Meese dan André Butzer mencerminkan depresi dan fenomena-fenomena obsesi; kedua perupa itu dianggap sebagai wakil “realisme neurotik”. Dengan karyanya “Mental Maps”, Franz Ackermann menggambarkan dunia sebagai desa global dan memperlihatkan musibah yang berlangsung di balik layar. Tino Seghal menghasilkan karya seni yang eksistensinya terbatas pada waktu performance-nya dan yang tidak boleh direkam; ia mencari bentuk produksi dan bentuk komunikasi di luar batas ekonomi pasaran. Besarnya perhatian kepada seni rupa di Jerman tercermin dalam pameranyang diselenggarakan lima tahun sekali di Kassel sebagai pameran seni rupa aktual yang terkemuka di dunia.

Berbeda dengan seni rupa - yang arti pentingnya digarisbawahi oleh pendirian sejumlah museum swasta baru - seni fotografi di Jerman harus berjuang lama sampai diakui sebagai bentuk seni yang mandiri. Sebagai pelopor pada tahun 70-an dikenal Katharina Sieverding dengan rangkaian potret dirinya yang menelusuri batas antara individu dan masyarakat.

Terobosan terjadi pada tahun 90-an dengan sukses yang diraih tiga murid dari Bernd dan Hilla Becher, suami-istri yang mengajar fotografi pada Akademi Seni di Düsseldorf: Dalam karya foto mereka, Thomas Struth, Andreas Gursky dan Thomas Ruff menimbulkan realitas mengilap yang menyembunyikan sesuatu. Pengaruh kelompok ini terhadap corak fotografi begitu besar sehingga mereka dinamakan “Struffsky” saja di kalangan internasional.

Keluarga Kecil

Yang saya tahu teater itu adalah perihal menang-kalah, aplaus meriah audiens, trofi dan penghargaan. Cuma itu!

Yah, dapat kawan ataupun lawan itu bonus lah.

Sampai sekitar 2 bulan yang lalu datang tawaran dari teman saya, Tama. Untuk 'mendidik' para sepupunya, mau main teater katanya.

Tawaran itu saya iyakan, tak lupa mengajak Kinan sebagai rekan kerja sekaligus pendamping.

Dipertemukanlah saya dengan Dily, sang empunya ide sekaligus sepupu teman saya tadi. Yang tetap menunggu saya (dengan sabar) beserta Ibunya meski saya terlambat.

Dijelaskanlah rencana demi rencana termasuk sumber daya pemain yang akan dipakai sampai masalah yang paling sulit adalah uang.

Saya bersuka cita! Bagaimana tidak? klien saya orang kaya, berduit dan sudah pasti kantong saya akan tebal.


Tapi,

Setelah saya tahu tujuan pentas mereka adalah dari para cucu untuk kakek nenek mereka yang merayakan ulang tahun perkawinan.



Saya merasa berdosa sekali untuk menarik keuntungan, bahkan untuk keluarga saya sendiri tidak pernah rasanya saya tunjukkan teater/drama sebagai tanda kasih sayang. Maka dari itu tanpa berpikir untung rugi, saya katakan 'tidak' untuk sesuatu yang disebut uang.

Latihan perdana dimulai yang harus saya hadapi adalah mereka yang sangat awam dengan teater, belum lagi sebagian dari mereka masih duduk di bangku SD-SMP!.



Latihan demi latihan berjalan dan berlalu hingga pentas pun tiba. Hari-hari yang melelahkan selesai!!!
berarti besok, saatnya bagi saya kembali ke panggung yang lain, karya yang lain.

Tetapi, ada yang kurang?

kemana mereka yang tidak disiplin? yang sering datang terlambat? yang tidak mendengarkan saya dengan baik? yang malah asyik main dan bergosip saat latihan?







Ternyata!

Saya rindu mereka. tak peduli apresiasi mereka pada drama yang saya buat. Saya tak peduli.


Saya ingin bertemu lagi dengan mereka entah itu di panggung, di pasar, di hutan, di empang sampai toilet umum sekalipun.

Dily, Jessie, Tama, Aga, Keisha, Katya, Karina, Lola, Azara, Vanka, Backti, Dafa, Naya, Rana, Nasya, Arno, Anna, Kiki, Resy,Firza, dan Alvi.


Terima kasih.

Telah memberikan saya ruang, bukan hanya untuk berkarya tapi juga merasakan kehangatan keluarga yang lama tak saya rasakan.

Sabtu, 20 Februari 2010

Menjadi Bangsa Pembelajar



Judul di atas dipungut dari usul Dr Karlina Supelli, yang disampaikan dalam diskusi buku Menjadi Bangsa Terdidik. Menurut Soedjatmoko dan buku Asia di Mata Soedjatmoko di Balai Soedjatmoko, Solo, 11 Januari 2010. Tampil bersama Prof Dr Mohtar Mas’oed, Karlina usul judul buku Menjadi Bangsa Terdidik diganti Menjadi Bangsa Pembelajar.

Pembelajar menekankan proses yang tidak pernah selesai, lebih dari kata terdidik. Orang kerap merasa sudah selesai karena sudah berpendidikan, sudah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Untuk pembelajar, kata Karlina, Soedjatmoko menggunakan kata-kata ”kemampuan kolektif seluruh bangsa untuk belajar”, seraya menegaskan ”keharusan untuk belajar bersama terus-menerus”.

Catatan singkat ini tidak ingin mempersoalkan relevan tidaknya pemikiran Soedjatmoko. Itu sudah merupakan keniscayaan. Tetapi, mau menggarisbawahi usul Karlina. Tidak terutama menyangkut judul buku, tetapi tentang perlunya paradigma tidak sampai tingkat metodologi memberikan tempat kepada pemikiran-pemikiran menerobos terbang tinggi.

Selasa, 08 Desember 2009

tugas kelompok perilaku konsumen

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

 

Pada era globalisasi seperti sekarang ini serta seiring  perkembangan zaman dan perkembangan teknologi yan gsemakin pesat sangat mempengaruhi minat para konsumen untuk membeli prodak yang beredar di pasaran oleh karena itu para produsen saling berlomba untuk meningkatkan mutu dan daya jual prodak mereka masing – masing. Sikap para konsumen serta motivasi para konsmen untuk membeli sangat di perhatikan sekali oleh para produsen.

 Ada beberapa macam pengertian sikap yang di sampaikan oleh para ahli. Kesumuanya mempunyai kesamaan yang Intinya sikap adalah perasaan dari konsumen dari suatu objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut. Semakin banyak objek yang dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk. Sikap memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive, ekspresi nilai, dan pengetahuan.

Serta untuk pengertian motivasi, motivasi adalah dorongan dalam diri individu yang memaksa mereka untuk bertindak, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.

Oleh karena itu di sini penulis mebuat suatu makalah yang membahas tentang sikap dan motivasi. Penulis membahas pengertian – pengertian sikap dan motivasi serta fungsi – fungsi dari sikap dan motivasi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang  masalah di atas maka penulis akan merumuskan masalah pada pengertian – pengertian dari sikap dan motivasi, fungsi – fungsi sikap dan motivasi, model sikap, pembentukan sikap, serta macam – macam motivasi.

 

1.3  Batasan Masalah

Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi masalah – masalah haya pada  pada pengertian – pengertian dari sikap dan motivasi, fungsi – fungsi sikap dan motivasi, model sikap, pembentukan sikap, serta macam – macam motivasi

 

1.4  Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian dari sikap dan motivasi. Sikap para konsumen serta motivasi para konsmen untuk membeli sangat di perhatikan sekali oleh para produsen. Di era era globalisasi seperti sekarang ini serta seiring  perkembangan zaman dan perkembangan teknologi yan gsemakin pesat sangat mempengaruhi minat para konsumen untuk membeli prodak yang beredar di pasaran oleh karena itu para produsen saling berlomba untuk meningkatkan mutu dan daya jual prodak mereka masing – masing.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Sikap
              Terdapat beberapa pengertian sikap yang disampaikan oleh para ahli. Intinya sikap adalah perasaan dari konsumen (positif dan negatif) dari suatu objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut. Semakin banyak objek yang dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk.

Sikap memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive, ekspresi nilai, dan pengetahuan. Untuk lebih memahami sikap perlu dipahami beberapa karakteristik sikap, diantaranya memiliki objek, konsisten, intensitas dan dapat dipelajari.

 

2.2. Model dan Teori Sikap

          Perkembangan teori tentang sikap sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan dalam bentuk model. Model tradisional menggambarkan pengaruh informasi dari lingkungan luar pribadi seseorang, di mana informasi tersebut akan diolah dengan menggunakan elemen internal dari seseorang, untuk menghasilkan sikap terhadap objek.

Model analisis konsumen menyebutkan bahwa sikap terdiri dari komponen perasaan (affect) dan kognitif, perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan model ABC menyatakan bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif, afektif, dan konatif (perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku). Teori kongruitas menggambarkan pengaruh antara dua jenis objek, di mana kekuatan satu sama lain dapat saling mempengaruhi persepsi konsumen.

Dan model terakhir adalah model Fishbein yang merupakan kombinasi dari kepercayaan objek terkait dengan atribut dan intensitas dari kepercayaan tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi dengan menambahkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.

 

2.3. Three Component Attitude Model

Model ini dikembangkan oleh para ahli perilaku, khususnya ahli psikologi social. Menurut model ini terdiri dari tiga komponen, diantaranya adalah :

1.      Komponen Kognitif.

Komponen Kognitif adalah pengetahuan dan persepsi yang diperoleh melalui kombinasi dari pengalaman langsung dengan objek sikap dan informasi terkait yang didapat dari berbagai sumber. Komponen ini sering kali dikenal sebagai keyakinan atau kepercayaan sehingga konsumen yakin bahwa suatu objek sikap memiliki atribut-atribut tertentu dan perilaku tertentu akan menjurus ke akibat atau hasil tertentu.

2.      Komponen Afektif

Komponen Afektif ialah emosi atau perasaan terhadap suatu produk atau merk tertentu. Emosi dan perasaan terutama mempunyai hakikat evaluatif, yaitu apakah konsumen suka atau tidak terhadap produk tertentu.

3.      Komponen Konatif

Komponen Konatif ialah kecenderungan seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan dan prilaku dengan cara tertentu terhadap suatu obyek sikap. Dalam pemasaran dan penelitian konsumen, komponen konatif lazimnya diperlakukan sebagai ekspresi niat konsumen untuk membeli atau menolak suatu produk

 

2.4. Pembentukan Sikap

Sikap yang terbentuk biasanya didapatkan dari pengetahuan yang berbentuk pengalaman pribadi. Sikap juga dapat terbentuk berdasarkan informasi yang diterima dari orang lain, yang memiliki pengaruh. Kelompok juga menjadi sumber pembentukan sikap yang cukup berpengaruh.

Alur pembentukan sikap dimulai ketika seseorang menerima informasi tentang produk atau jasa. Informasi tersebut, kemudian dievaluasi dan dipilah, berdasarkan kebutuhan, nilai, kepribadian, dan kepercayaan dari individu. Sehingga terjadilah pembentukan, perubahan atau konfirmasi dalam kepercayaan konsumen terhadap produk, serta tingkat kepentingan dari tiap atribut produk terhadap dirinya atau terhadap kebutuhannya saat ini.

Hasil akhirnya adalah terbentuknya sikap dari individu terhadap suatu objek (produk, jasa atau hal lainnya). Tingkat komitmen dari pembentukan sikap beragam, mulai dari compliance, identification, sampai kepada internalization. Dalam prinsip konsistensi sikap, terdapat harmoni antara pemikiran, perasaan, dan perbuatan, yang cenderung menimbulkan usaha untuk menciptakan keseimbangan antara ketiganya.

 Adanya disonansi antara elemen sikap dan perilaku dapat direduksi dengan menghilangkan, menambah atau mengubah keduanya (teori disonansi kognitif). Teori persepsi diri menyatakan bahwa sikap dapat ditentukan dari perilaku yang diobservasi. Adanya penerimaan dan penolakan pesan berdasarkan standar yang dibentuk dari sikap sebelumnya terdapat dalam teori penilaian sosial.

 

2.5 . Perubahan Sikap

Strategi perubahan sikap dapat dilakukan baik terhadap produk dengan keterlibatan tinggi, maupun untuk produk dengan tingkat keterlibatan rendah. Usaha mengarahkan audiens untuk produk dengan keterlibatan rendah ditempuh dengan mentransformasi situasi ke arah keterlibatan konsumen yang tinggi. Adapun strategi perubahan sikap konsumen terhadap produk atau jasa tertentu dilakukan dengan menggunakan saluran komunikasi persuasif, yang mengikuti alur proses komunikasi yang efektif.

Pemasar harus mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan dapat menyebabkan perubahan sikap dari penerima pesan atau konsumen. Faktor sumber, pesan, dan penerima pesan dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan perubahan sikap dan tentunya perubahan perilaku positif dari konsumen yang diharapkan oleh pemasar.

Kredibilitas dari sumber pesan menjadi fokus dari komunikasi persuasif. Dalam mengelola pesan, yang harus diperhatikan adalah struktur, urutan, dan makna yang terkandung dalam pesan. Karakteristik dari penerima pesan, yang meliputi kepribadian, mood, dan jenis kepercayaan yang dimiliki juga menjadi faktor penentu keberhasilan komunikasi persuasif.

 

2.6. Fungsi Sikap

 

Daniel Katz membagi fungsi sika dalam empat kategori sebagai berikut :

 

-          Fungsi Utilitarian

Melalui instrument suka dan tidak suka, sikap positif atau kepuasan dan menolak produk yang memberikan hasil positif atau kepuasan. Jadi, jika seseorang membutuhkan zat penghilang noda pada baju, lalu dia mendapatkan produk dengan merek C, dan setelah di konsumsikan ternyata zat dengan merek C itu dapat benar – benar menghilangkan noda, maka dia akan membentuk sikap positif terhadap merk C tersebut.

 

-          FungsiEgo Defensive

Orang cenderung mengembangkan sikap tertentu untuk melindungi egonya dari abrasi psikologis. Abrasi psikologis bisa timbul dari lingkungan yang kecanduan kerja. Untuk melarikan diri dari lingkungan yang tidak menyenangkan ini, orang tersebut mebuat rasionalisasi (dengan demikian menghindar dari anxiety dan citra yang negative) dengan mengembangkan sikap positif terhadap gaya hidup yang santai.

 

-          Fungsi value expensive

( Mengekpresikan nilai – nilai yang di anut ) fungsi itu memungkinkan konsumen untuk mengekpresikan secara jelas citra dirinya dan juga nilai – nilai inti yang di anutnya. Misalnya : Mobil BMW mendukung mengekspresikan dirinya sebagai eksekutif yang sukses.

 

-          Fungsi Knowledge –organization

Karena terbatasnya kapasitas otak manusia dalam memproses informasi, maka orang cenderung untuk bergantung pada pengetahuan yang di dapat dari pengalaman dan informasi dari lingkungan.

 

-          Attitude Toward Object Model

Menggambarkan sikap terhadap object. Jadi bisa saja seseorang mengatakan dia suka coca-cola, yang berarti dia memiliki sikap positif terhadap coca-cola.

 

 

 

 

 

 

-          Attitude Toward Behaviour Model

Menggambarkan sikap terhadap prilaku, misalnya orang yang akan mebeli pesawat televise yakni bahawa jika dia membeli pesawat televisi , keluarganya akan lebih bahagia.

 

-          Theory of Reasoned Action Model

Model yang menguraikan teori tindakan yang nalar. Maksud prilaku di dasari oleh gabungan dari attitude toward behavior, keyakinan social dan normative tentang apakah perilaku pantas atau tidak pantas, dan motivasi untuk berprilaku sesuai dengan keyakinan normatif. 

 

2.7 Motivasi

Motivasi adalah dorongan dalam diri individu yang memaksa mereka untuk bertindak, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.

Untuk memahami kebutuhan manusia, Teori Maslow dan McClelland menggambarkan bahwa manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang berbeda sehingga hal ini dapat digunakan pemasar untuk mendorong konsumsi suatu produk dan atau jasa.

 

 

 

 

 

2.8. Model Proses Motivasi

            Schiffman dan Kanuk (2000) membuat model proses motivasi seperti berikut ini :

            Anak panah dari tension reduction ke tension, maksudnya adalah bahwa seseorang yang sudah dapat mencapai tujuan tertentu seringkali mempunyai tujuan lain sebagai lanjutan. Hal ini dapat di sebabkan oleh adanya tuntutan dari lingkungannya. Misalnya, orang yang ingin masuk Fakultas Ekonomi (tension sudah reda), setelah lulus (timbul tension yang baru) lalu dia ingin melanjutkan melanjutkan ke Magister Manajemen. Maka seringkali dikatakan bahwa kebutuhan manusia itu tidak pernah terpenuhi atau terpuaskan secara mutlak.

 

2.9 Macam – macam motivasi :

-          Motivasi Positif

Kebutuhan (needs), keinginan (wants) atau hasrat

-          Motivasi Negatif

Ketakutan (fears), dan keengganan (aversion)

 

Keduanya mempunyai fungsi yang sama dalam mendorong dan mempertahankan prilaku manusia. Maka orang menyebut keduanya : needs, wants, dan desires.

Dibedakan pula antara :

-          motif rasional : manusia berprilaku rasional pada waktu mereka mempertimbangkan alternative dan memilih alternative yang memiliki paling banyak kegunaan. Dalam konteks pemasaran, konsumen memilih produk tujuan berdasarkan criteria yang objektif seperti ukuran , harga, berat, dan sebagainya.

-          Motif emosional : pemilihan tujuan berdasarkan criteria yang subyektif dan bersifat pribadi seperti kebanggaan, ketakutan, perasaan maupun status. Hal ini berhubungan dengan kebutuhan sekunder atau bahkan tersier.


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

 

3.1 Kesimpulan

Dalam penulisan akalah ini penulis menjelaskan pengertian sikap, fungsinya serta pengertian motivasi. Ada beberapa macam pengertian sikap yang di sampaikan oleh para ahli. Kesumuanya mempunyai kesamaan yang Intinya sikap adalah perasaan dari konsumen dari suatu objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut. Semakin banyak objek yang dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk. Sikap memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive, ekspresi nilai, dan pengetahuan.

Serta untuk pengertian motivasi, motivasi adalah dorongan dalam diri individu yang memaksa mereka untuk bertindak, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.

 

3.2 Saran

Penulis sadar bahwa makalah yang penulis buat ini masih belum sempurna  dan penulis berharap seiring berkembangan zaman dan prkembangan teknologi yang semakin pesat, penulis berharap bagi para penyusun penyusun da penulis makalah yang akan datang agar lebih memberikan penjelasan yang lebih baik lagi serta  memberikan pengertian serta masukan – masukan yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Prasetijo, Ristiayani.2005. Prilaku Konsumen. Jakarta : Andi Ofset